buku_ski_MI_4_guru by Atiqotul ilma on Scribd
Tampilkan postingan dengan label SKI. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label SKI. Tampilkan semua postingan
Jumat, 15 Desember 2017
Senin, 04 Desember 2017
Hijrah Nabi Muhammad Saw ke Yatsrib
Peristiwa
Hijrah ke Yatsrib terjadi pada hari jum’at, tanggal 16 Rabiul Awwal, tahun 1 H,
atau tanggal 2 juli tahun 622 M, tibalah Nabi beserta rombongannya di kota
Yatsrib. Masyarakat Yatsrib dengan penuh
semangat dan suka cita berbondong-bondong menyambut kedatangan Nabi Muhammad
Saw. beserta rombongannya. Mereka sangat bahagia karena sudah sejak lama mereka
menunggu kedatangan Nabi Muhammad Saw. Masyarakat Yatsrib menyambut Nabi Muhammad Saw dan kaum muhajirin
sambil melantunkan syair dan lagu-lagu sebagai tanda cintanya kepada beliau.
Yaitu:
Setelah Baiat Aqabah kedua, dimana
penduduk Mekah dan Madinah sudah sepakat akan melindungi Nabi dan umat islam,
tidak akan saling mengganggu, dan akan mendukung dakwah Nabi, maka Rasulullah
memerintahkan para sahabat untuk segera berhijrah ke Yatsrib. Para sahabat bergegas menuju madianah. Seorang
demi seorang, sepasang demi sepasang, mereka mulai meninggalkan Mekah pada tengah
malam menuju Madinah.
Masyarakat Mekah dan Yatsrib mereka
membaur menjadi satu. Seolah mereka adalah saudara, mereka saling membantu dan
saling menolong, bahu membahu bahkan mereka menganggap keluarga sendiri.
Masyarakat Mekah yang hijrah ke
Yatsrib terkenal dengan sebutan kaum Muhajirin, sedangkan masyarakat Yatsrib
terkenal dengan sebutan kaum Anshar artinya kaum penolong.
Setelah Nabi Muhammad dan penduduk
Mekah hijrah, kota Yatsrib dirubah namanya menjadi Madinah. Penduduk Madinah
pun semakin baik, semakin mengalami kemajuan baik di bidang perdagangan,
pertanian, dan peradaban. Madinah semakin maju dan terkenal.
B. Sebab-sebab
hijrah Nabi Muhammad Saw ke Yatsrib
1.
tekanan kaum Quraisy terhadap dakwah Islam semakin kuat
Tekanan dan siksaan
kafir Quraisy terhadap umat islam semakin keras. Bahkan hanya kaum muslimin
yang lemah, para sahabat dan keluarga Rasulullah Saw pun menjadi sasaran
kekejaman mereka.
Apa lagi setelah istri
beliaun (Sayidatina Khadijah) dan paman beliau Abu Thalib wafat pada tahun
ke-10 kenabian. Penghinaan dan penyiksaan kafir Quraisy semakin menjadi.
Seperti yang dilakukan Uqbah bin Mu’ith kepada beliau.
Ketika Nabi Muhammad
Saw sedang bersujud di sekitar orang-orang Quraisy, Uqbah bin Mu’ith datang
dengan membawa kotoran dan melmparkannya keatas penggung beliau . Nabi Saw
tidak mengangkat kepalanya hingga datang Fatimah ra. Membersihkannya.
Demikian beratnya
tekanan dan penyiksaan yang dilakukan kafir Quraisy sehingga akhirnya demi
menjaga keimanan dan keselamatan kaum Muslimin serta keamanan dakwahnya,
Rasulullah Saw. memerintahkan para sahabat dan pengikutnya untuk hijtah ke
Yatsrib.
2.
penduduk Yatsrib menerima dakwah Rasulullah
Ternyata penduduk Yatsrib
lebih dapat menerima dakwah Nabi Saw. dari pada penduduk negeri lain. Hal ini
terbukti oleh baiat yang dilakukan oleh penduduk Yatsrib kepada Rasulullah.
Enam orang tokoh Bani
Khazraj menyatakan keimanannya di hadapan Rasulullah Saw dan siap melakukan
dakwah di kota Yatsrib. Pada tahun kesebelas kenabian serombongan orang-orang
Khazraj mengunjungi ka’bah untuk berhaji. Dalam rombongan itu ada enam orang
tokoh bani khazraj. Mengetahui hal itu, Rasulullah Saw mengajak mereka memeluk
Agama Islam.
Bagaikan “ulam tiba pucuk
dicinta”, Alhamdulillah, usaha Rasulullah Saw. berhasil. Keenam orang tersebut
menyatakan diri masuk islam. Mereka percaya bahwa Nabi Muhammad Saw. adalah
Rasul Allah seperti yang disebutkan dalam kitab orang Yahudi.
Sepulang dari Mekah keenam
orang tersebut mendakwahkan ajaran agama islam di Yatsrib. Ternyata penduduk
Yatsrib dapat menerima dan menyambut dakwah islam dengan baik. Tidak lama
kemudian banyak penduduk Yatsrib yang memeluk islam. Akhirnya ada secercah
sinar harapan bagi perjuangan dakwah islam melalui penduduk Yatsrib.
3. adanya jaminan keamanan drai penduduk Yatsrib terhadap dakwah
Nabi.
Pada tahun ke-12
kenabian (621 M) ada 12 orang penduduk Yatsrib datang ke Mekah untuk berhaji.
Mereka terdiri dari 10 orang suka Khazraj dan 2 orang suku ”Aus”. Kedatangan
mereka ke Mekah, disamping untuk berhaji, mereka juga bermaksud ingin menemui
Rasulullah Saw.
Namun Rasulullah
Saw tidak bersedia menemui mereka di
kota Mekah, karena khawatir akan dicelakai olrh orang-orang kafir Quraisy.
Akhirnya Nabi Saw bersedia menemui mereka di desa Aqabah (sebuah desa di dekat
Mina) pada suatu malam.
Pada malam itu
juga, mereka melakukan baiat tanda setia kepada Rasulullah Saw penduduk Yatsrib yang terkenal memiliki sifat ramah,
lemah lembut, dan suka menolong itu berjanji untuk setia dan melindungi
keselamatan dan keamanan dakwah Nabi
Saw.
Baiat tersebut
di kenal dengan nama Baiat Aqabah Pertama (Baiat al-Aqabah al-Ula) atau Baiat
an-Nisa’ (Baiat Wanita). Hal itu karena diantara mereka terdapat seorang
wanita, yaitu Afra binti Ubaid Ibnu Tsa’labah. Dialah wanita Yatrib pertama
yang berbaiat kepada Rasulullah Saw.
Isi Baiat Aqabah Pertama
1. tidak mempersekutukan Allah
2.
tidak berdusta
3. tidak membunuh anak-anak perempuan
5. tidak memfitnah
6. tidak melakukan hal-hal tercela
7. akan tetap setia kepada Allah dan Rasul-Nya
Setelah 12 orang
berbaiat dihadapan Rasulullah Saw. mereka meminta agar beliau mengutus salah
seorang sahabat untuk mengajarkan Al-Qur’an dan menjadi imam kaum muslimin
dimYatsrib. Untuk itu Rasulullah Saw menutus Mush’ab bin Umair agar berangkat
ke Yatsrib bersama mereka. Akhirnya mereka kembali ke Yatsrib bersama Mush’ab
bin Umair untuk melakukan dakwah islam
disana.
4. permintaan penduduk Yatsrib agar Rasulullah hijrah ke negerinya
Penduduk Yatsrib yang terkenal memiliki sifat ramah, lemah
lembut, dan suka menolong itu bukan hanya berjanji untuk setia dan melindungi
Nabi Saw., namun mereka juga meminta kepada Rasulullah Saw. untuk berhijrah ke
Yatsrib. Permintaan itu mereka sampaikan pada peristiwa Baiat al-Aqabah. Baik pada Baiat Aqabah
Pertama maupun kedua. Oleh karena itu Rasulullah Saw memerintahkan kaum
muslimin agar segera hijrah ke Yatsrib. Sebanyak 75 orang penduduk Yatsrib
sedang berbaiat di hadapan Rasulullah Saw di desa Aqabah dan meminta beliau
untuk berhijrah ke Yatsrib.
Satu tahun setelah
Baiat Aqabah pertama, yakni pada tahun ke-13 kenabian (622 M) sebanyak 75 orang
penduduk Yatsrib (ada riwayat menyenbutkan 73) dipimpin oleh Al-Barra bin
Ma’rur bersama Mush’ab bin Umair datang ke Mekah meminta agar Rasulullah Saw
hijrah ke Yatsrib.
Nabi Saw memanggil
Mush’ab dan meminta keterangan tentang perkembangan dakwah Islam di Yatsrib. Setelah mendengar
penjelasan Mush’ab tentang keberhasilannya dalam mengajarkan agama islam di
sana, dengan didampingi pamannya yang bernama Abbas bin Abdul Muthalib,
akhirnya Nabi Saw menemui penduduk Yatsrib di Aqabah pada saat tengah malam.
Pada pertemuan ini
penduduk Yatsrib meminta dengan sangat agar Rasulullah Saw berhijrah ke Yatsrib
dan bersedia menjadi pemimpin bagi mereka di sana. Pada malam itu juga mereka
berbaiat kepada Rasulullah. Baiat kali ini disebut Baiat Kubra atau Baiat
Aqabah kedua.
Isi Baiat Aqabah Kubra
1. berjanji untuk taat dan
setia kepada Rasulullah Saw. baik dalam keadaan senggang maupun sibuk
2. berjanji untuk tetap
berinfak, baik dalam keadaan lapang maupun
dalam keadaan sempit
3. berjanji untuk tetap
melakukan kebaikan dan mencegah kemungkaran
4. barjanji untuk tetap
teguh membela kebenaran karena Allah swr. Tanpa rasa takut dicela
5. berjanji untuk tetap
membantu dan membela Rasulullah sebagaimana membela diri sendiri dan
keluarganya.
Setelah orang-orang
Yatsrib tersebut mengucapkan baiat, mereka diminta Rasulullah Saw agar 12
pemimpin dan wakil mereka dalam melaksanakan tanggung jawab atas keselamatan
kaumnya masing-masing, yakni 9 orang perwakilan suku Khazraj dan 3 orang dari
suku Aus.
Sepulang dari Mekah
mereka mengajak sanak famili dan kerabat mereka untuk memeluk agama islam usaha
mereka berhasil dengan sangat baik. Sehingga pada saat Rasulullah Saw hijrah ke
Yatsrib pada tanggal 12 Rabiul Awwal bertepatan pada tanggal 22 september 622
M, pengikut agama Islam di Yatsrib sudah lebih dari 500 orang.
5. adanya rencana pembunuhan kafir Quraisy terhadap Rasulullah
Berita tentang
penduduk Yatsrib yang telah banyak memeluk agama Islam akhirnya diketahui oleh
orang-orang kafir Quraisy. Orang-orang kafir itu juga telah mengetahui bahwa
sebagian besar kaum Muslimin telah berhijrah ke Yatsrib. Karena itu mereka
sepakat untuk membunuh Rasulullah Saw.
Pada hari kamis,
tanggal 26 Safar tahun ke-14 kenabaian bertepatan tanggal 12 Aeptember 622 M.
Para pemuka Quraisy mengadakan pertemuan di suatu tempat yang bernama Darun
Nadwah untuk membicarakan cara menyingkirkan Nabi Muhammad Saw. pertmuan itu
dihadiri oleh para pemimpin suku Bani Quraisy, Bani Naufal, Bani Asad, Bani
Abdu Dar, Bani Makhzum, Bani Jamh, dan Bani Abdi Syamsy.
Dalam pertemuan itu
Abu Aswad mengusulkan agar Muhammad Saw diusir dari Negeri Arab. Pendapat ini
tidak disetujui, karena jika Muhammad Saw diusir maka beliau akan berdakwah di
negeri lain. Mereka khawatir pengikutnya semakin banyak dan sewaktu-waktu
beliau akan menyerang Mekah.
Sedangkan Abul
Bukhturi berpendapat agar Muhammad Saw sitangkap dan dipenjarakan sampai mati.
Pendapat ini pun ditolak, dengan alasan Muhammad Saw pasti akan ditolong oleh
kaum muslimin Mekah dan Yatsrib.
Akhirnya pertemuan
itu menerima usulan Abu Jahal agar mereka mengumpulkan pemuda-pemuda Quraisy
yang kuat dan gagah berani untuk menghalangi dakwah islam sampai tega akan membunuh
Rasulullah Saw. manusia hanya dapat merencana, Allah swt. Jualah yang akan
menentukannya.
6. adanya perintah Allah untuk berhijrah
Pada
saat pemimpin-pemimpin Quraisy sedang merencanakan pembunuhan terhadap Nabi
Saw., Allah swt. Menurunkan ayat berbunyi:
وَإِذْ
يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ
وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
Artinya:
“Dan (ingatlah), ketika
orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap
dan memenjarakannya atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu
daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu, dan Allah ebaik-baik pembalas tipu
daya “(QS. Al-Anfal:30).
Setelah menyampaikan ayat di atas,
jibril memberitahukan Nabi Saw., bahwa Allah swt. Telah menceritakan beliau
untuk berhijrah ke Yatsrib. Setelah itu Nabi pun segera bersiap untuk
berhijrah.
Masyarakat Yatsrib sebelum Nabi Muhammad Saw
Yatsrib
merupakan nama lain kota Madinah. Wilayah Yatsrib dikelilingi gunung berapi
yang subur tanahnya. Sehingga menjadi pusat pertanian dan jalur perdagangan
yang ramai. Kota Yatsrib merupakan daerah persawahan dan perkebunan, hasil
terbesarnya adalah kurma dan anggur. Masyarakatnyapun juga beternak, seperti
unta, sapi kambing dan kuda. Selain itu mereka juga berdagang. Mata uang yang
digunakan disana adalah Dirham dan
Dinar, Namun adakalanya mereka berdagang dan melakukan jual beli dengan cara
tukar menukar barang (barter)
Penduduk Yatsrib sebagian besar
merupakan pendatang. Sebelum hijrah Nabi Muhammad Saw., terdapat tiga suku
besar dari agama Yahudi di Yastrib diantaranya suku Bani Qainuqa’, Bani Nadhir,
dan Bani Quraizhah.
Selain suku Yahudi terdapat pula suku
dari bangsa Arab yang menetap disana, di antaranya yaitu suku Aus dan Khazraj.
Mereka beribadah dengan cara menyembah berhala.
Pada awalnya suku-suku di Yatsrib
hidup dengan rukun, damai dan penuh rasa kasi sayang. Merek juga memiliki
sifat-sifat terpuji diantaranya memiliki sifat yang berani, dermawan, setia,
rela berjuang, sabar dan jujur. Selain itu mereka juga senang menerima tamu.
Namun selanjutnya mulai timbul saling
curiga dan saling ancam. Perselisihan terjadi antara dua suku besar dari bangsa
Arab,yaitu suku Aus dan Khazraj. Mereka diadu domba oleh suku Yahudi sehingga kehidupan masyarakatpun menjadi
tidak teratur. Sangat sulit untuk menjalin persatuan di bawah satu pemerintahan
yang mengatur semua kabilah.
Yang menjadi penyebab utama
perselisihan salah satunya adlah masalah ekonomi. Terkadang mereka juga sering
memperebutkan daerah yang subur dan kekuasaan. Namun dua suku tersebut dapat
bersatu ketika melawan yahudi. Meskipun kerukununan belum begitu terjalin
hingga kedatangan Nabi Muhammad Saw ke Yatrib.
isra' mi'raj Nabi Mughammad
Isra’ yaitu perjalanan Nabi
Muhammad Saw yang diatur oleh Allah Swt dari Masjidil Haram sampai Masjidil Aqsa.
Mi’raj yaitu perjalanan Nabi Muhammad
Saw yang diatur oleh Allah Swt dari
Masjidil Aqsa hingga Sidratul Muntaha.
Jadi, Isra’ Mi’raj adalah kekuasaan
Allah Swt memperjalankan hambanya (Nabi Muhammad Saw) dari Masjidil Haram di
kota Mekah sampai ke Masjidil Aqsa di
Yerusalem pada malam hari, kemudian dilanjutkan sampai ke langit ketujuh
(Sidratul Muntaha).
A. latar
belakang Isra’ Mi’raj
Firman Allah
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ
لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آيَاتِنَا ۚإِنَّهُ
هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ
Artinya :
Mahasuci (Allah), yang telah
memperjalankan Hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidil Haram ke
Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya) agar Kami perlihatkan
kepada-Nya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha
Melihat.” (Qs. Al-Israa:1).
Setelah menjadi Rasul, Nabi Muhammad
Saw semakin giat berdakwah. Beliau makin pula banyak tantangan dan ancaman yang
datang. Nabi semakin cemas dan khawatir akan keberhasilan dakwahnya. Setiap
kali Nabi merasa cemas dan khawatir Allah selalu menenangkan hati beliau, dengan menurunkan
wahyu-wahyu-Nya.
Kala itu Rasulullah mendapat ujian
yang sangat berat, yakni dua orang terdekat beliau yang selalu membela baliau
telah wafat. Baru saja paman Abu Thalib bin Abdul Muthalib meninggal. Tiga hari
kemudian istri beliau, yakni Khadijah ra. Telah dipanggil Sang Khaliq. Baliau benar-benar
berduka. Kaum muslimin juga merasakan sedih sekali. Reaksi kafir Quraisypun
semakin keras memusuhi Nabi Saw.
Dalam keadaan seperti itu, Allah swt.
Mengutus Malaikat Jibril untuk menjemput beliau. Pada malam tanggal 27 Rajab
tahun 621 M Rasulullah sedang duduk merenung di serambi masjid. Datanglah
Jibril mendekati beliau dan mengajaknya untuk melakukan perjalanan jauh, yakni
isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa dan mi’raj ke langit ketujuh.
Allah swt. Tuhan Yang Maha Mengetahui
dan Maha Bijaksana selalu menolong dan menghibur di saat Nabi merasa sedih dan risau. Allah bermaksud
menunjukkan tanda-tanda kekuasaan dan kebenaran-Nya. Sehingga beliau tak perlu
cemas atau risau. Peristiwa yang akan dialami Nabi kali ini sangat menakjubkan.
Kejadiannya sulit diterima akal biasa. Hanya orang beriman yang dapat
mempercayainya.
B. Persitiwa
penting dalam isra’ mi’raj
Isra’ mi’raj terjadi pada tanggal 27
Rajab tahun 621 M, yaitu 3 tahun sebelum hijrah.
1. perjalanan
isra’ dari Masjidil Haram ke Masjidil
Aqsa
a.
Nabi Muhammad Saw. mengendarai Buraq yang dibawa Malaikat Jibril dari Surga.
b.
Dalam perjalanan, berhenti sejenak dan melaksanakan salat sunnah 2 rakaat di
Madinah, Jibril mnjelaskan kepada Nabi Muhammad Saw bahwa di tempat inilah
kelak Nabi Muhammad Saw berhijrah.
c.
Setelah melanjutkan perjalanan, Jibril menyuruh Nabi Muhammad Saw turun untuk
salat sunnah 2 rakaat. Di Thuur Sina, yaitu tempat Nabi Musa AS berbicara
langsung dengan Allah swt.
d.
kemudian untuk yang ketiga kalinya Jibril menyuruh Nabi Muhammad Saw. berhenti
untuk melaksanakan salat sunnah 2 rakaat lagi di Baitul Lahm, tempat Nabi Isa
AS lahir.
e.
Dalam perjalanan, Nabi Muhammad Saw. mengalami peristiwa-peristiwa yang sangat
bermakna.
2. Perhjalanan Mi’raj dari Masjidil Aqsa ke langit ketujuh
(Sidratul Muntaha)
Setelah melaui perjalanan dari langit
pertama hingga langit ketujuh, Nabi Muhammad Saw. kemudian melanjutkan
perjalanan tnpa ditemani oleh Malaikat Jibril. Pada saat itulah Nabi Muhammad
Saw. menerima perintah salat langsung dari Allah swt.
Sebagaimana telah kalian ketahui bahwa
maksud isra’ dan mi’raj Nabi Muhammad Saw adalah agar Allah swt. Memperlihatkan
tanda-tanda kebesaran-Nya.
Peristiwa yang
dialami Rasulullah ketika menjalankan isra’ dan mi’raj
1. Bertemu dengan Jin
Ifrid
2. Rasulullah menyaksikan orang yang tak henti-hentinya menuai
(memanen) hasil tanamannya. Sebagai gambaran bagi orang yang berjuang dalam
membela agama Allah. Amal mereka diipatkan gandakan sampai 700 kali
3. Nabi Muhammad Saw. mencium bau harum. Jibril menjelaskan bahwa
bau tersebut adalah bau dari kuburan Mashithah beserta keluarganya yang dibunuh
oleh Raja Fir’aun karena tetap teguh mempertahankan keimanannya kepada Allah
swt.
4. gambaran dosa dan hukuman bagi orang yang berzina. Nabi
diperlihatkan ada beberapa orang yangsedang membawa daging, dan disebelah
orang-orang itu terdapat daging yang sudah membusuk, kemudian orang-orang itu
membuang daging yang dibawanya dan mengambil daging yang sudah membusuk.
5. gambaran dosa dan hukuman bagi orang yang suka makan riba. Nabi
diperlihatkan ada orang yang perutnya sangat besar sehingga sukar untuk
berjalan.
6. gambaran dosa dan hukuman
bagi orang yang suka berdusta dan membicarakan keburukan orang lain. Nabi
diperlihatkan ada orang yang memotong lidahnya sendiri, setelah lidahnya
terpotong kemudian tersambung kembali, begitu seterusnya berulang-ulang.
7. kemudian Nabi juga diperlihatkan gambaran wajah-wajah para
malaikat penjaga neraka. Wajahnya menakutkan, tidak tersenyum dan tidak
memperlihtkan keramahan dan kelembutan sedikitpun.
Banyak peristiwa yang disaksikan oleh Nabi Muhammad Saw. dalam
perjalanan isra’ mi’raj tersebut. Hal ini merupakan peringatan agar manusia
jangan sampai berbuat dosa, sekecil apapun dosa pasti akan ada balasannya.
Manusia hendaknya selalu berbuat baik. Karena sekecil apapun kebaikan akan ada
pahalanya.
Selama perjalanan isra’ dan mi’raj Nabi Saw. selalu ditemani dan
dipandu oleh Jibril As. Namun ketika hendak naik Ke Sidratul Muntaha , Jibril
tidak lagi menemani beliau. Beliau harus naik sendiri untuk menjemput perintah
langsung Sang Khaliq, Yakni perintah salat lima waktu yang wajib dilaksanakan
oleh beliau dan seluruh Umat Islam.
Setelah menerima perintah
itu, Nabi kembali ke Mekah bersama Jibril AS. Nabi tiba kembali di tempat, pada
malam itu juga. Sebuah perjalanan yang hanya dapat terjadi atas qudrat dan
iradat-Nya. Subhanallah.
Sikap Rasulullah setelah kembali dari isra’ mi’raj yaitu Rasulullah
harus segera menyampaikan perintah slat yang baru saja diterima kepada umatnya.
Beliau merasa cemas akan sikap kaumnya. Apakah mereka akan bisa menerima kebenaran
peristiwa yang dialaminya. Sementara kejadian yang dialaminya memang sangat
luar biasa. Beliau berpikir bagaimana menyampaikan berita itu kepada umatnya.
Rasulullah yang bersifat
tabligh akan selalu menyampaikan setiap wahyu Allah kepada umatnya. Beliau tak
akan menyimpan wahyu itu meskipun berat tantangan yang akan dihadapinya. Beliau
menceritakan peristiwa isra’ mi’raj dihadapan orang-orang Quraisy.
Ternyata benar kebanyakan penduduk Quraisy tidak percaya akan
kebenaran peristiwa isra’ mi’raj. Bahkan mereka banyak yang menganggap Nabi
telah gila. Dalam kondisi seperti itu, Abu Bakar datang membesarkan hati Nabi.
Ia membenarkan dan mempercayai semua cerita Nabi.
Sebagai seorang yang beriman anak-anak harus percaya dan yakin akan
kebenaran peristiwa isra’ mi’raj Nabi Muhammad Saw.
C.
Perintah Salat Lima Waktu
Seperti
telah kamu ketahui, bahwa salat lima waktu merupakan perintah Allah,
hasil Rasulullah menjalani isra’ mi’raj. Perintah salat ini memiliki suatu
keistimewaan dibanding dengan perintah wajib yang lain. Keistimewaan salat lima
waktu salah satunya adalah bawha salat lima waktu merupakan perintah langsung
Allah swt. Kepada Nabi Muhammad Saw tanpa perantara Malaikat Jibril. Ketika
dimi’rajkan ke Sidratul Muntaha. Nabi mendapat perintah melaksanakan salat.
Semula, perintah salat dalam sehari semalam adalah 50 kali sebagaimana
diwajibkan atas umat sebelumnya. Namun Allah memberikan keringanan kepada Nabi
Muhammad Saw. dan umatnya, sehingga perintah salat hanya diwajibkan lima waktu
dalam sehari-semalam. Namun pahala dan keutamaannya tidak kurang dari lima
puluh kali.
Salat lima waktu merupakan salah satu
Rukun Islam. Setiap muslim yang berakal dan sudah balig wajib melaksanakannya
dengan tertib. Salat menjadi tiang agama. Orang yang menegakkan salat berarti
menegakkan agama. Orang yang meninggalkan salat berarti merobohkan agama. Orang
yang meninggalkan sakat sekali saja, maka namanya akan dicatat di pintu neraka,
sampai ia lakukan kembali (qada) salat itu.
salat menjadi amal ibadah yang sangat penting.
Amal perbuatan manusia yang kelak akan dihisab pertama pada “hari
perhitungan”(Yaumul Hisab) adalah salat. Jika seseorang baik dan sempurna
ibadah salatnya, maka akan dinilai baik semua amal ibadahnya.
D.
Hikmah Peristiwa Isra’ Mi’raj
Ada beberapa hikmah yang dapat dijadikan pelajaran dan nasihat dalam
kehidupan sehari-hari dari peristiwa isra’ mi’raj Nabi Muhammad Saw
diantaranya adalah:
1. kita harus menyakini bahwa apapun yang Allah swt. Kehendaki bisa
terjadi, karena Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. Oleh karena itu manusia
tidak boleh sombong, seperti yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad Saw. walaupun
seorang pemimpin, Nabi tidak sombong.
2. kita wajib taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan kita
harus dibuktikan dengan ibadah. Ibadah
yang utama dalam Islam adalah menegakkan salat. Perintah salat diterima
langsung oleh Nabi Muhammad Saw dari Allah swt. Pada peristiwa isra’ mi’raj.
3. kita harus mencintai dan bangga kepada Nabi Muhammad Saw karena
bukan hanya Nabi-Nya umat islam, tetapi beliau juga pemimpin umat seluru dunia.
Isra’nya Nabi dimulai dari kota Mekah menuju Yerusalem membuktikan bahwa Nabi
dicintai oleh bangsa yang bukan Orang Arab saja, tapi juga sampai diluar Arab.
Wilayah yang pada waktu itu merupakan pusat kekuasaan Yahudi dan Nasrani-pun
tetap menerima dan menghormati Nabi Muhammad Saw.
4. kita harus membuktikan bahwa besarnya Islam bukan karena
kekuasaan, tetapi karena dakwah yang disampaikan dengan hikmah penuh
kelembutan, kasih sayang dan dengan suri tauladan.
Nabi
Muhammad Saw ketika berdakwah selalu memberi contoh yang baik, membangun
kepribadian Umat, tegas dalam hal Aqidah, dan penuh kasih sayang pada semua
umat, walaupun bukan Umat Islam
Langganan:
Postingan (Atom)
